hari idul adha
Khutbah Jumat
M
Muad Amsyari
1 Mei 2026
3 menit baca
1 views
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم. الحمد لله رب العالمين، الرحمن الرحيم، مالك يوم الدين، إياك نعبد وإياك نستعين، اهدنا الصراط المس...
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم.
الحمد لله رب العالمين، الرحمن الرحيم، مالك يوم الدين، إياك نعبد وإياك نستعين، اهدنا الصراط المستقيم، صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، خاتم الأنبياء والمرسلين، صلى الله وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه أجمعين.
أما بعد،
فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون. قال الله تعالى في كتابه الكريم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. (آل عمران: 102)
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Hari ini, di hari yang penuh berkah ini, udara kita dipenuhi gema takbir, tasbih, tahmid, dan tahlil. Gema yang membangkitkan jiwa dari kelalaian, yang mengingatkan kita akan keagungan Allah, Sang Penguasa semesta alam. Kita berdiri di ambang hari raya Idul Adha, sebuah momen yang bukan sekadar perayaan kebahagiaan, namun lebih dalam lagi, sebuah panggilan untuk merenungi makna pengorbanan, kepatuhan, dan cinta yang hakiki.
Idul Adha adalah penjelmaan dari kisah teladan ayahanda para nabi, Ibrahim Alaihissalam. Ingatlah bagaimana Allah SWT menguji kecintaannya dengan perintah yang paling berat, disuruh menyembelih buah hatinya, Ismail Alaihissalam. Sebuah perintah yang mengguncang alam, namun Ibrahim Alaihissalam, dengan ketundukan yang luar biasa, menjawab: "يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ". (QS. Ash-Shaffat: 102) Dan Ismail Alaihissalam, dengan kesalehan yang mengagumkan, membalas: "يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ". (QS. Ash-Shaffat: 102)
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Lihatlah bagaimana kalimat itu menggetarkan hati! Ayah bersiap mengorbankan putra terkasihnya, dan sang putra dengan ikhlas menerima takdir. Ini bukan sekadar kisah dari masa lalu, ini adalah cerminan dari perjuangan kita sehari-hari. Seberapa dalamkah cinta kita kepada Allah? Seberapa siapkah kita mengorbankan keinginan duniawi demi ridha-Nya? Seberapa jauh kita sanggup menahan hawa nafsu demi menjemput rahmat-Nya? Allah berfirman: "قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ". (QS. At-Taubah: 24)
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Puncak dari Idul Adha adalah ibadah kurban. Allah SWT berfirman: "فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ". (QS. Al-Kautsar: 2) Kurban ini bukan hanya soal menyembelih hewan, tetapi sebuah simbol penyerahan diri seutuhnya. Ia mengajarkan kita untuk tidak terikat pada materi, untuk berbagi dengan sesama, dan untuk membersihkan hati dari sifat bakhil dan egois. Daging hewan kurban itu sendiri tidak sampai kepada Allah, namun ketakwaanmulah yang sampai kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya: "لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ". (QS. Al-Hajj: 37)
Betapa indah ajaran Islam ini. Di saat kita merayakan kegembiraan, kita diajak untuk kembali merenung, kembali merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta. Di saat kita memiliki kelebihan harta, kita diingatkan untuk tidak melupakan saudara-saudara kita yang membutuhkan. Di saat kita merasa kuat dan berkuasa, kita diajak untuk ingat bahwa semua itu hanyalah amanah sementara. Kurban adalah latihan jiwa agar kita senantiasa dekat dengan Allah, agar kita merasakan kebahagiaan dalam berbagi, dan agar kita terhindar dari kesombongan dunia.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Renungkanlah. Berapa banyak nikmat yang telah Allah limpahkan kepada kita? Kesehatan, keluarga, harta, bahkan kesempatan untuk bernapas di pagi hari ini. Semuanya adalah karunia yang tak terhitung. Dan apa balasan kita? Seringkali kita lalai, terlena dalam kesibukan dunia, melupakan Sang Pemberi nikmat. Ingatlah, dunia ini adalah perantauan, dan kehidupan hakiki kita adalah di akhirat kelak. Kematian pasti datang, dan kita akan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan setiap detik kehidupan yang telah diberikan.
Mari kita jadikan momentum Idul Adha ini sebagai titik tolak untuk kembali kepada Allah. Mari kita lepaskan segala kesombongan, segala kebencian, segala penyakit hati lainnya. Mari kita sucikan hati kita, sebagaimana kita menyucikan hewan kurban kita. Jadikan setiap pengorbanan kita di dunia ini sebagai bekal yang berharga untuk akhirat. Berkorban waktu, berkorban harta, berkorban tenaga, bahkan berkorban diri untuk ketaatan kepada Allah.
Ingatlah pesan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam: "يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا رَبَّكُمْ، وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ، وَصُومُوا شَهْرَكُمْ، وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ، وَأَطِيعُوا أُمَرَاءَكُمْ، تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ". (Riwayat Tirmidzi) "Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu, shalatlah lima waktu, puasalah di bulan Ramadhanmu, tunaikanlah zakat hartamu, taatilah pemimpinmu, niscaya kalian akan masuk surga Tuhanmu." Sederhana, namun inti dari segalanya.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Marilah kita tunjukkan cinta kita kepada Allah bukan hanya dengan ucapan lisan, tetapi dengan tindakan nyata. Berkorbanlah demi keluarga kita, berkorbanlah demi masyarakat kita, dan yang terpenting, berkorbanlah demi agama kita. Siapkah kita untuk mengorbankan kemalasan demi tahajud? Siapkah kita mengorbankan keegoisan demi membantu sesama? Siapkah kita mengorbankan kesibukan duniawi demi mendekatkan diri kepada Allah?
Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang senantiasa bertaubat, yang senantiasa merendahkan diri di hadapan-Mu. Angkatlah dosa-dosa kami, terimalah amalan kami, dan kasihanilah kami di akhir kehidupan kami.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.